Perusahaan-perusahaan minyak Amerika Serikat menikmati keuntungan besar dari konflik berkepanjangan AS-Iran di tengah-tengah penderitaan ekonomi penduduk Amerika yang harus harus membayar harga tinggi untuk bensin, disel, dan bahan bakar lain seperti pemanas rumah.
- LEGO MARVEL ADVENT CALENDAR – Young Super Heroes can discover a Christmas gift every day with the LEGO Marvel Advent Cal…
- 24 DAYS OF SURPRISE GIFTS – Including buildable toys for kids, vehicles, LEGO minifigures and Super Hero-themed mini bui…
- 6 LEGO MARVEL MINIFIGURES – Kids can discover fan-favorite Marvel characters decked out for the season, including Spider…
Dalam laporan New York Times Jumat (30 Oktober), terungkap bahwa perusahaan-perusahaan minyak AS meraup keuntungan sebesar 130 milyar dolar dari bulan April hingga September 2026, naik 280% (hampir tiga kali lipat) dari 47 milyar dolar di periode sama tahun lalu.
Sementara itu, penduduk Amerika secara keseluruhan terpaksa mengeluarkan 147 milyar dolar lebih untuk bensin dan disel sejak AS dan Israel mulai menyerang Iran akhir bulan Februari tahun ini, demikian analisa lembaga peneliti Climate Solutions Lab di Brown University. Rata-rata setiap rumah tangga Amerika mengeluarkan ekstra 1.100 dolar selama periode konflik hingga saat ini.

Terutama karena konflik di Timur Tengah, dan pada tingkat lebih rendah konflik Rusia-Ukraina, sebagian kilang penyulingan minyak hancur di wilayah Timur Tengah dan Rusia. Kilang-kilang minyak di AS – tidak terganggu oleh konflik – dengan leluasa mendapat tingkat keuntungan lebih tinggi. Dua perusahaan minyak terbesar AS – ExxonMobil dan Chevron, sebagai contoh, meraup keuntungan berlipat ganda di kuartal 3 tahun ini. Keuntungan ExxonMobil naik dua kali mencapai 15,4 milyar dolar, dan keuntungan Chevron naik hampir tiga kali mencapai 9,9 milyar dolar. Keuntungan keduanya banyak dibantu oleh bisnis pengilangan minyak mereka.
Dibandingkan tahun 2025, konsumen Amerika membayar bensin dan disel masing-masing 34,2% dan 74,2% lebih tinggi tahun ini. Akibat lebih jauh adalah harga tinggi untuk makanan dan berbagai produk lain-lain karena banyak tergantung pada dua bahan bakar tersebut untuk pengolahan dan pengangkutan.
“Ini menggambarkan situasi yang sangat suram bagi penduduk Amerika yang tengah berada dalam kesulitan menghadapi tingginya biaya hidup, mereka kemungkinan besar tidak akan merasakan keringanan biaya bahan bakar dalam waktu dekat – terutama di tengah potensi konflik militer selanjutnya (di Iran),” demikian publikasi Business Insider mengatakan dalam editorial awal minggu ini.
Senator Chris Van Hollen dari negara bagian Maryland mengatakan dalam unggahan di media social Bluesky bahwa perang yang diluncurkan Presiden Trump hanya menguntungkan teman-temannya di industri minyak atas penderitaan rakyat Amerika yang setiap hari harus bekerja keras.
Trump sendiri mengatakan dalam kampanye menjelang pemilihan umum paruh waktu tanggal 3 November dia tidak peduli dengan tingkat harga bahan bakar saat ini. Industri minyak merupakan salah satu penyumbang terbesar dana kampanye politik bagi Trump dan Partai Republik.
