Bagi banyak diaspora Indonesia yang sudah membangun karir di luar negeri, Nadiem Makarim sempat menjadi salah satu cerita sukses seorang warga atau keturunan Indonesia yang kembali ke negara asal.
Pendiri Gojek dengan pendidikan dari dua universitas top di Amerika – Brown dan Harvard University – meninggalkan dunia bisnis untuk mengabdi di pemerintahan dengan membawa pengalaman dari kesuksesan besar di bidang teknologi untuk membantu modernisasi negara.
Apa yang terjadi kemudian? Nadiem saat ini menghadapi kemungkinan dipenjara selama 18 tahun atas tuduhan korupsi semasa menjabat sebagai Menteri Pendidikan di bawah presiden Joko Widodo meskipun tidak ada bukti meyakinkan dilihat dari kacamata hukum. Pengadilan Nadiem membuat diaspora Indonesia mempertanyakan apakah ada artinya kembali bekerja di tanah air.
- EVERY PURCHASE SAVES PETS. Every purchase makes it possible for BISSELL to continue our support of BISSELL Pet Foundatio…
- SAVE YOUR SANCTUARY: Tackle spills and pet stains while removing dander, dust, and pollen allergens.
- CLEANS MORE THAN CARPET: Spray, scrub, and suction to remove embedded dirt and stains from upholstery, car interiors, pe…
Jaksa penuntut menjabarkan tuntutan terhadap Nadiem sabagai kejahatan bermotif finansial yang menyebabkan kerugian besar bagi negara. Nadiem dianggap memanipulasi proses pembelian laptop chromebook untuk sekolah-sekolah di seluruh Indonesia senilai 2.18 triliun rupiah (124 juta dolar AS) untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Ia dituduh memilih chromebook karena laptop jenis ini adalah produksi Google, dan google salah satu investor di Gojek.
Nadiem menolak semua tuduhan. Pengacara pembela Nadiem mengatakan Jaksa penuntut tidak bisa menunjukkan bukti adanya niat melakukan tindak pidana, keuntungan finansial bagi tertuduh, dan kerugian nyata bagi negara. Nadiem sendiri menegaskan ia sudah mengikuti semua proses pembelian termasuk mendapatkan persetujuan dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sebelum mengeksekusi rencana yang sudah masuk dalam anggaran negara.
Google membantah sangkaan terlibat dalam kasus Nadiem. “Kami tidak menawarkan, menjanjikan atau memberikan keuntungan kepada pejabat-pejabat Departemen Pendidikan sebagai imbalan keputusan mereka menggunakan produk Google,” perusahaan teknologi raksasa ini mengatakan dalam pernyataan tertulis awal tahun ini.
Pengadilan dan tuduhan oleh Kejaksaan Agung Indonesia sejak awal mendapat reaksi keras dari diaspora Indonesia yang menempuh pendidikan dan membina karir di luar negeri.
Sebagian mengatakan kasus Nadiem membuat mereka takut pulang karena peristiwa ini menunjukkan proses hukum tidak dijalankan di Indonesia dengan benar. Pada umumnya, warga diaspora ini tidak mau memberikan nama sesungguhnya ketika diminta memberikan komentar atau menyampaikan reaksi lewat media sosial.
Bahkan ada yang mengatakan bahwa pemerintahan dan sistem hukum Indonesia masih saja tidak berbeda dari masa pemerintahaan Suharto ketika kekuasaan berada di atas segala-galanya; yang berkuasa mengatur proses hukum dan keputusan pengadilan.
- Inspired by the world’s largest soccer matchup, the adidas FIFA World Cup 26 soccer ball pairs design with performance. …
- TSBE TECHNOLOGY: Seamless surface for better touch and lower water uptake
- KEEPS ITS SHAPE: Butyl bladder for best air retention
Di Indonesia, mereka menilai, kemampuan dan professionalisme tidak biasa diandalkan untuk mendapatkan penghargaan dan tempat berkarir di pemerintahan atau bahkan bisnis karena hubungan politik dan nepotisme tetap paling menentukan.
