Kelas ekonomi ECON 1170 (Welfare Economics & Social Choice Theory) di Brown University – salah satu universitas Amerika dalam kelompok Ivy League – terkenal sebagai mata kuliah berat, dan nilai tinggi sulit didapat.
- HAWAIIAN TROPIC AFTER SUN LOTION WITH ALOE for 24-hour hydration
- SKIN-NOURISHING SPF with shea butter and soothing aloe vera
- LIME COOLADA SCENT
Pengajar mata kuliah tersebut, profesor ekonomi Roberto Serrano, memang dikenal di Brown University sebagai profesor yang tidak memberikan nilai dengan gampang.
Di kwartal musim semi (spring quarter – Brown memakai sistem 3 kwartal) lalu, prof. Serrano menuliskan dalam silabus akan menggunakan ujian bawa pulang (take-home exam) untuk ujian tengah waktu (midterm) dan ujian akhir (final exam). Ini dilakukan mengingat sebagian mahasiswa dan mahasiswi Brown mengungkapkan kecemasan mereka berada dalam kelas setelah peristiwa penembakan massal yang menghilangkan nyawa dua mahasiswa dan melukai sembilan lain bulan Desember.
Tetapi menjelang akhir kwartal bulan Maret, Serrano menyesalkan keputusan memberikan ujian bawa pulang.
Serrano dan asisten-asisten kelas menjadi curiga bahwa banyak mahasiswa dan mahasiswi di kelas tersebut menggunakan alat AI (Artificial Intelliegence / Kecerdasan Buatan) untuk mendapatkan hasil sempurna atau mendekati sempurna di ujian tengah kwartal.
Serrano dan asisten-asistennya yang membantu memeriksa hasil ujian tercengang dengan nilai rata-rata ujian tengah semester mencapai angka 96 dari masksimal 100. Bahkan 40 mahsiswa dan mahasiswi berhasil mendapat nilai 100. Hasil tersebut luar bisa melihat selama dua dekade Serrano mengajar kelas tersebut rata-rata nilai ujian tengah semester berada antara 65 hingga 80. Apalagi, Serrano mengatakan, ia membuat ujian kali ini lebih berat dari biasa karena ujian dibawa pulang, dan waktu yang diberikan lebih panjang.
Khawatir penyontekan lewat AI akan terulang, Serrano kemudian memutuskan ujian akhir akan dilakukan di dalam kelas. Tiba-tiba belasan mahasiswa dan mahasiswi menarik diri dari kelas. Perguruan tinggi Amerika memang memperbolehkakan murid membatalkan keikutsertaan suatu mata kuliah beberapa waktu sebelum Ujian akhir. Sembilan orang lagi tidak datang ke ujian akhir meskipun tidak menarik diri.
Serano dan asisten-asisten kelas kemudian memasukkan tes ke dalam ChatGPT. Alat AI ini memberikan jawaban mirip dengan apa yang ditulis mahasiswa dan mahasiswi kelas. Sebagai contoh, kata Serrano, satu pertanyaan yang meminta pembuktian pernyataan matematis bisa dilakukan dengan argumentasi langsung. Tetapi banyak muridnya memakai argumentasi kontradiksi yang memberikan jawaban benar bahkan sangat tercancang. Ia menyimpulkan jawaban dari banyak para mahasiswa kelas tidak dibuat oleh manusia.
Dari semua mahasiswa dan mahasiswi yang tetap terdaftar di mata kuliah tersebut dan mengikuti ujian akhir dalam kelas, rata-rata nilai hanya mencapai 48.6 (dari 100), jauh menurun dari rata-rata ujian pertengahan kwartal (96) yang dibawa pulang.
Brown bukan satu-satunya universitas top Amerika di mana para mahasiswa dan mahasiswa menggunakan alat AI dalam mengerjakan ujian atau menyelesaikan tugas. Survei di Princeton University menemukan 29.9 persen mahasiswa dan mahasiswi universitas peringkat teratas Amerika ini mengaku nyontek dari AI paling tidak dalam satu mata kuliah.
- Read in color – The new 7″ Colorsoft display is high-contrast and easy on the eyes, with paper-like color that brings co…
- A brand-new experience – The Kindle Colorsoft display is optimized for reading in color and is different from the Kindle…
- Color your pages – Highlight your favorite scenes in yellow, orange, blue, and pink.
Tetapi situasi di Brown memperlihatkan lebih jelas bagaimana bentuk penyontekan menggunakan AI menghilangkan dan merusak proses pembelajaran sesungguhnya. Meskipun AI bisa membantu pembelajaran dalam bentuk lain, tetapi mencontek dari AI dalam ujian akan menimbulkan konsekuensi negatif pada kapasitas kognitif dan berpikir seorang pelajar.
Serrano menyampaikan persoalan penyontekan menggunakan AI kepada pimpinan universitas. Tetapi sejauh ini tanggapan pimpinan universitas kurang antusias.
“Kita tidak bisa membiarkan adanya masyarakat di mana sejumlah signifikan dari orang-orang muda dengan pikiran cerdas menganggap menyontek tidak apa-apa,” kata Serrano, seperti dikutip Higher Ed.
“Kita tidak bisa memilih menjadi orang-orang bodoh.”
