Burung-burung laut pun ternyata mengalami jet lag setelah terbang jauh. Bukan hanya manusia mengalami gangguan atau disorientasi tubuh setelah terbang melewat berbagai zona waktu (jet lag).
- WORLD’S BEST IN-EAR ACTIVE NOISE CANCELLATION — Removes up to 2x more unwanted noise than AirPods Pro 2* so you can stay…
- BREAKTHROUGH AUDIO PERFORMANCE — Experience breathtaking, three-dimensional audio with AirPods Pro 3. A new acoustic arc…
- HEART RATE SENSING — Built-in heart rate sensing lets you track your heart rate and calories burned for up to 50 differe…
Penelitian yang diterbitkan di The Journal Science menemukan spesies burung laut dikenal sebagai Manx Shearwater mengalami disorientasi yang menyebabkan kesalahan navigasi saat terbang balik ke sarang dengan menyusuri pantai Laut Atlantik.
Disorientasi tersebut, menurut para peneliti, disebabkan oleh jam biologis internal di dalam tubuh burung yang tidak selaras dengan posisi matahari di langit.
Empat peneliti mengenai navigasi burung berniat mengerti lebih jauh bagaimana burung-burung laut yang melakukan terbang jarak jauh bisa tahu di mana berada dan menuju ke mana di atas laut sangat luas. Burung-burung pada umumnya menggunakan medan magnetis Bumi dan posisi matahari pada saat terbang dan ritme sirkadian alami dalam tubuh atau jam internal biologis.
Ketika burung-burung ini terbang dari Timur ke Barat jarak jauh, mereka melewati beberapa perubahan waktu yang bisa mengakibatkan ketidaksesuaian antara jam internal tubuh dan waktu setempat.
Burung Manx Shearwater banyak di temukan di daerah British Isles (kepulauan Inggris). Burung ini sedikit mirip burung camar meskipun lebih kecil dan sebetulnya lebih dekat dengan albatross.
Manx Shearwater memiliki pasangan seumur hidup. Pasangan burung ini berkembang biak dengan hanya memiliki satu telur.
Masing-masing bergiliran mengerami telur tersebut. Satu dari pasangan akan mengerami telur tanpa henti pada saat yang satu lagi pergi ke laut berburu ikan dan cumi-cumi, dan bepergian sepanjang ratusan mil- bisa hingga 600 mil (hampir 1000 km) – selama dua minggu.

Begitu burung yang berburu memenuhi perutnya dengan makanan, burung ini segera terbang balik ke koloninya dan sering hanya menempuh waktu satu hari untuk kembali ke sarang.
Patrik Lewin, peneliti pasca-doktoral bidang ekologi di University of Oxford dan peneliti utama studi ini, menjelaskan proses penerbangan panjang tersebut mengundang pertanyaan: Apakah burung-burung Manx Shearwater merasakan jet lag?
Untuk mengetahui apakah burung-burung Shearwater mengalami efek dari penerbangan melewati berbagai zona waktu seperti yang dialami manusia, Lewin menggunakan GPS yang dipasangkan ke burung-burung. Dengan GPS, Lewin dan tim penelitinya mengumpulkan data penerbangan Shearwater menuju ke Laut Atlantik dan perjalanan pulang.
Manx Shearwater diyakini menggunakan matahari untuk navigasi penerbangan. “Untuk bisa menggunakan matahari sebagai kompas, ia harus bisa tahu waktu di satu hari,” demikian Lewin.
Di pagi hari, matahari berada di timur, pertengahan hari sedikit ke arah selatan (bila anda tinggal di belahan bumi utara), dan di barat di sore dan malam hari.
Bila burung-burung Shearwater salah mendeteksi waktu di satu hari, akibat disorientasi dari perjalanan yang menempuh zona waktu berbeda (efek jet lag seperti pada manusia), mereka akan melakukan kesalahan dalam perjalanan pulang.
Ternyata memang itu yang ditemukan oleh Lewin dan tim penelitinya. Jadi pada saat si burung yang sudah selesai berburu makanan segera terbang pulang menuju pasangan dan telur yang sedang dierami, burung ini sempat melenceng sepanjang beberapa mil. Ini menunjukkan bahwa burung ini betul mengalami efek jet lag.
Lewin berharap penelitian ini bisa menyumbang pengertian lebih jauh mengenai jam internal biologis manusia. “Cara jam biologis kita bekerja sangat mirip dengan cara kerja jam biologis burung.”
Lewin menambahkan penelitian ini selanjutnya akan mencoba mengetahui bagaimana burung-burung ini mengatasi kondisi dimana mereka sering mengalami jet lag.
