Sejak enam tahun lalu, hasil tes standar – SAT atau ACT – tidak lagi menjadi keharusan bagi lulusan sekolah menengah di Amerika dalam mengajukan aplikasi masuk ke 10 universitas-universitas yang tergabung dalam sistem University of California (UC). Tujuannya adalah membuka peluang bagi anak-anak berbagai kelompok masyarakat – khsususnya yang kurang terwakili – mendapat kesempatan masuk ke kampus berkualitas tinggi.
Yang terjadi kemudian adalah akumulasi frustrasi di kalangan profesor-profesor matematika dan IPTEK di UC saat mengajar di ruang kelas karena banyak mahasiswa sama sekali tidak punya kemampuan mengikuti berbagai mata kuliah yang menuntut kemampuan matematika pada tingkat universitas.
Dalam surat terbuka kepada pimpinan UC, sekitar 600 profesor menyatakan mereka tidak bisa menilai apakah mahasiswa-mahasiswa yang masuk bisa mengikuti atau tidak matematika tingkat universitas tanpa tes standar dalam proses aplikasi masuk.
“Bahkan kami bisa melihat kesenjangan kesiapan (di antara mahasiswa-mahasiswa) begitu parah hingga pengajar harus mengajarkan kembali matematika tingkat sekolah menengah pertama sementara pada saat yang sama mengajar bahan kuliah yang diperlukan untuk mempelajari ilmu alam, teknik, ekonomi, dan bidang-bidang lain yang memerlukan kemampuan kuantitatif.”
Dalam surat yang digalang oleh profesor-profesor matematika UC Berkeley, mereka juga menunjuk pada laporan dari UC San Diego yang menemukan bahwa jumlah mahasiswa tahun pertama dengan kemampuan matematika di bawah tingkat sekolah menengah pertama meningkat 30 kali sejak sistem UC tidak lagi memberlakukan persyaratan tes standar seperti SAT dan ACT tahun 2020.
Menjawab tuntutan para profesor tersebut, Juru bicara dari pimpinan UC mengatakan bahwa UC terus memberikan dukungan kepada mahasiswa-mahasiswa baru menyangkut kesiapan matematika.
Tetapi permintaan dari 600 profesor matematika dan IPTEK tersebut didasarkan pada apa yang mereka lihat dan alami langsung sehari-hari di dalam kelas.
Keputusan dewan pimpinan UC bulan Mei 2020 menangguhkan persyaratan SAT atau ACT datang dari kekhawatiran mereka bahwa tes tersebut bias terhadap murid-murid kulit berwarna dan yang berasal dari keluarga dengan pendapatan rendah sehingga menekan keberagaman di universitas.
Zvezda Stankova, seorang profesor pengajar di departmen matematika UC Berkeley menolak argumen tidak adanya tes standar akan membantu keberagaman. Sebagai contoh, ia mengatakan, sekitar 30% dari mahasiswa-mahasiswa di kelas kalkulusnya sama sekali tidak siap. “Tidak ada yang bisa anda lakukan untuk menolong mereka. Mereka sama sekali tidak siap.”
Tidak mungkin, tambah Stankova, situasi demikian bisa membantu keberagaman di kampus. “Anda berikan mereka tiket masuk ke universitas hebat seperti UC hanya supaya mereka gagal. Apakah ini bisa disebut keberagaman (diversity)?”
