Raksasa perbankan investasi Amerika Goldman Sachs memproyeksikan permintaan minyak mentah dunia akan menurun sebesar 320.000 barel (0.32 juta) per hari dipacu oleh peningkatan tajam penjualan mobil listrik (EV / electric vehicle) di akhir tahun depan.
- 40A FAST CHARGING & UNIVERSAL FIT: Wake up to a full battery with this 40 Amp EV Charger (9.6kW), delivering charging sp…
- SMART APP SCHEDULING & COST SAVING: Stop paying peak electricity rates. Our Smart EV Charger (WiFi enabled) empowers you…
- 15-MINUTE DIY INSTALLATION & COST SAVING: Skip the expensive electrician fees. Designed for true Plug and Play simplicit…
Dalam riset terbit Minggu 21 Juni, Goldman Sachs mengatakan penetrasi EV mencapai 26.1 % dari total penjualan mobil dunia di bulan Mei. Angka ini naik 3.4 poin persentase dibandingkan bulan Februari dan menyamai rekor tertinggi yang pernah dicapai sebelumnya.
Kenaikan ini berbasis luas di mana 12 dari 15 pasar terbesar EV mencatat tingkat adopsi lebih tinggi dari periode sebelumnya.
Tak terbantahkan, Cina berada paling depan dalam peralihan ke EV. Negara ini merupakan pasar bagi 60 persen dari seluruh penetrasi EV di dunia dengan kenaikan 11.4 persen sejak Februari.
Tahun lalu, satu dari empat mobil yang terjual di seluruh dunia adalah mobil listrik, menurut International Energy Agency. IEA memperkirakan penjualan EV akan mencapai setengah (50%) dari seluruh penjualan mobil global di tahun 2035 meskipun tidak ada tambahan kebijakan pendukung dari pemerintah di masing-masing negara.
Penurunan permintaan minyak, jelas Goldman Sachs, tetap akan terjadi meskipun tingkat adopsi EV tidak naik dari angka bulan Mei. Bank investasi ini mengatakan permintaan akan turun sebanyak 130.000 barel (0.13 juta) per hari di akhir 2027 dengan memakai skenario lebih rendah.
Harga bahan bakar minyak lebih tinggi akibat konflik di sekitar Selat Hormuz menjadi salah satu pendorong konsumen untuk beralih lebih cepat ke kendaraan listrik, menurut analis minyak Gold Sachs Alexandra Paulus. Tren ini terutama sangat terasa di Cina, di mana permintaan bensin menurun seiring dengan kenaikan volume pengisian daya EV.
Goldman Sachs menambahkan tren tersebut mendukung perkiraannya bahwa penurunan permintaan minyak berkepanjangan akan membantu harga minyak Brent menuju ke angka 50-an dolar per barel akhir 2027.
