Dampak teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence / AI) atas pembelajaran masih belum sepenuhnya jelas. Tetapi guru-guru sekolah dasar hingga menengah (K-12) di Amerika Serikat mulai khawatir AI akan berdampak negatif terhadap kemampuan berpikir kritis siswa, menurut survei oleh NPR/IPSOS (NPR / National Public Radio adalah satu organinasi media independen nir laba; IPSOS salah satu perusahaan Survei ternama di Amerika).
Survei nasional dengan 545 responden tersebut memberikan gambaran kompleks mengenai pandangan guru-guru soal penggunaan AI. Satu yang paling jelas dari hasil survei adalah sebagian besar guru-guru khawatir AI membuat siswa lebih sulit bisa belajar berpikir sendiri.
“Lebih dari setengah (55%) melihat AI sebagai jalan pintas bagi para siswa menghindari lebih banyak kerja dan mengatakan itu (AI) membuat para siswa lebih sulit untuk belajar berpikir kritis (54%),” IPSOS menuliskan dalam laporan hasil-hasil temuan survei.
Wakil Presiden IPSOS Mallory Newall, seperti dikutip NPR, mengatakan hasil survei menunjukkan bahwa “Guru-guru merasa kita berada dalam situasi di mana ini (AI) akan mengubah masa depan pendidikan secara mendasar.”

AI Lebih Sebagai Sebagai Alat Bantu Guru Saat Ini
Hasil survei menunjukkan penggunaan AI oleh murid-murid masih terbatas. Lebih dari setengah guru-guru mengatakan AI belum digunakankan di dalam kelas oleh siswa-siswi mereka, dan 2 dari 5 guru mengatakan murid-murid mereka baru menggunakan AI sekali seminggu di dalam kelas.
Sementara itu mayoritas guru-guru, 6 dari 10, mengatakan mereka sudah menggunakan AI untuk membantu pekerjaan.
Di antara guru-guru yang sudah memperkenalkan AI kepada para siswa, guru biologi Michele Naber di SMA El Toro, California, mengatakan, seperti dikutip NPR, ia memperbolehkan murid-murid menggunakan AI selama pelajaran-pelajaran tertentu untuk mengajarkan mereka bagaimana memberikan instruksi atau pertanyaan kepada chatbots dengan benar dan kemudian memeriksa akurasi jawaban.
Contohnya, Nabel memberitahu murid-muridnya bagaimana membuat pertanyaan kepada ChatGPT untuk menjelaskan karakter-karakter dan habitat hewan tertentu, dan kemudian memverifikasi apakah chatbot memberikan jawaban dengan sumber-sumber bisa diandalkan. Pelajaran itu, kata Nabel, membantu murid-murid untuk mengerti bahwa AI masih memberikan jawaban salah dari waktu ke waktu.
- CERTIFIED SAFETY WITH BALANCED, CONTROLLED BUOYANCY: Designed as a CE-certified swimming aid that meets EN 13138-1:2021/…
- ADJUSTABLE 8-PANEL BUOYANCY SYSTEM: Removable foam panels allow support to be gradually reduced as swimming skills impro…
- SOFT NEOPRENE COMFORT KIDS LOVE: Made from soft, elastic, UV-resistant neoprene that feels gentle on skin and allows fre…
Nabel menambahkan ia juga berhasil menggunakan AI untuk membuat pertanyaan-pertanyaan pilihan berganda untuk penilaian siswa.
Joann Purcell, guru matematika di satu sekolah menengah di Chicago, menilai AI berguna untuk pengembangan profesional para pendidik. Tetapi, ia tidak menggunakan AI untuk murid-murid di kelasnya karena AI masih belum bisa diandalkan untuk membuat pertanyaan. “Masih menyulitkan karena masih banyak kesalahan (dari AI), dan lebih baik saya membuat pertanyaan-pertanyaan sendiri.”
Berikut Kesimpulan IPSOS dari Hasil Survei:
- Sebagian besar guru menilai AI berdampak pada kemampuan berpikir kritis siswa.
- Lebih dari setengah melihat AI sebagai jalan pintas siswa untuk menghindari pekerjaan (55%) dan mengatakan AI membuat siswa lebih sulit belajar untuk berpikir kritis.
- Dengan nada sama, 3 dari 5 guru setuju bahwa AI mengurangi tingkat saling percaya antara murid dan guru (59%) dan membuat lebih sulit mengukur tingkat pengetahuan siswa (57%).
- 2 Dari 5 guru meminta supaya tugas-tugas kelas lebih banyak dilakukan dengan tulis tangan atau di dalam kelas (masing-masing 39%).
- Guru-guru yakin penggunaan AI yang bertanggung jawab perlu diajarkan, tetapi lebih dari setengah belum melakukannya.
- 4 Dari 5 guru (78%) setuju bahwa mengajarkan penggunaan AI perlu mejadi bagian dari kurikulum.
- Tetapi 52% guru mengatakan sekolah mereka belum memberikan panduan mengenai AI.
- 1 Dari 3 guru mengatakan sekolah mereka punya kebijakan resmi mengenai penggunaan AI oleh siswa, tetapi lebih sedikit lagi mengatakan ada kebijakan soal penggunaan AI oleh guru (23%).
- Guru-guru melihat AI memiliki implikasi lebih besar daripada perubahan-perubahan tekonologi masa lalu.
- 74% Melihat AI membawa implikasi lebih besar pada pendidikan K-12 daripada perubahan-perubahan teknologi sebelumnya, dibanding 10% yang mengatakan tidak ada perbedaan.
- Secara keseluruhan guru-guru punya pendapat berbeda-beda soal dampak AI pada pendidikan. Hampir setengah (49%) percaya AI memiliki dampak negatif dan positif, 40% mengatakan dampaknya negatif dan hanya 9% mengatakan positif.
- Jelas, guru-guru sekolah menengah lebih cenderung daripada guru-guru sekolah dasar menilai dampak AI sebagai negatif (47% dibandingkan 32%).
- Menyangkut bagaimana guru-guru menggunakan AI, mayoritas mengatakan menggunakan AI untuk membantu pekerjaan administrasi atau persiapan.
- 3 Dari 5 (62%) mengindikasikan menggunakan AI untuk membantu pekerjaan mereka.
- 54% Menggunakan AI paling sedikit sekali seminggu untuk perencanaan pelajaran atau tugas administrasi. Sementara itu, hanya 32% mengatakan menggunakan AI untuk bahan-bahan pelajaran sesungguhnya.
- Di antara guru-guru yang menggunakan AI, 69% mengatakan AI membantu mereka menjadi lebih produktif dan efisien. 3 Dari 10 (29%) mengatakan tidak ada perubahan, dan hanya 2% mengatakan AI membuat mereka menjadi kurang produktif dan efisien.
- Contoh-contoh utama penggunaan AI oleh guru adalah membuat bahan-bahan pelajaran kelas (69%), menulis dan membuat rencana pelajaran (52%), tugas-tugas administrasi (42%), dan komunikasi dengan orang tua atau menulis laporan (41%).
