Setelah mengebor di lepas pantai Wilayah Timur Amerika selama 3 bulan awal tahun ini, sekelompok ilmuwan tergabung dalam Expedition 501– bekerjasama dengan International Ocean Discovery Program – menemukan keberadaan sumber air tawar sangat besar di bawah dasar laut. Perhitungan awal menunjukkan kawasan tersebut – dari lepas pantai New Jersey hingga Maine – menyimpan volume air cukup untuk kebutuhan jumlah manusia seperti di kota New York selama 800 tahun.
Dalam proses pengoboran, kelompok ilmuwan ini menemukan jalur sedimen penuh dengan air yang jauh lebih tidak asin dibandingkan air laut di atasnya saat mencapai kedalaman 1300 kaki dari dasar laut. Bahkan, dari sampel yang diambil, kandungan garam berada dalam batas aman standar air minum di Amerika. Pengeboran dilakukan di lepas pantai tidak jauh dari daerah Nantucket dan Martha’s Vineyard.

“Kami sangat antusias melihat air tawar terdapat di berbagai lapisan sedimen – baik laut maupun darat,” ungkap Brandon Dugan, profesor geofisika di Colorado School of Mines yang memimpin kelompok ilmuwan tersebut, dalam pernyataan tertulis.
Penemuan ini tidak datang secara tiba-tiba. Menurut EcoNews, bentangan air di bawah laut wilayah Atlantik ini sudah dihipotesiskan dalam beberapa laporan setelah US Geological Survey menemukan secara tidak sengaja indikasi air tawar di bawah dasar laut Atlantik ketika melakukan survei rutin menilai keberadaan mineral dan sumber daya alam di wilayah laut itu.
Misi mencari air sendiri bermula dari teori yang menjelaskan bahwa timbunan es 20.000 tahun lalu di Jaman Es menekan es mencair ke bawah dasar tanah. Ketika permukaaan air laut naik, es cair dan air tersebut terperangkap di bawah.
Penemuan reservoir air besar ini tentunya bisa membantu upaya mengatasi krisis air global. Tetapi tim ilmuwan memberi catatan masih panjang jalan harus ditempuh untuk bisa memanfaatkan sumber air ini. Pengambilan air dari bawah dasar laut akan menjadi perkerjaan sangat rumit dan mahal, dan bisa merusak lingkungan laut sekitarnya.
Saat ini, Dugan dan timnya fokus pada usaha mengetahui persis berapa volume air yang ada, dan apakah waduk air bawah laut itu terhubung dengan kantong-kantong air bawah tanah di daratan.
“Tujuan kami adalah memberikan pengetahuan mengenai sistem sehingga bila ada yang perlu memanfaatkannya, mereka sudah memiliki informasi supaya tahu memulai dari mana,” demikian Dugan.
