Badan imigrasi dan kepabeanan Amerika, dikenal sebagai ICE (Immigration and Customs Enforcement), akan mendatangi tempat-tempat pertandingan Piala Dunia sepakbola 2026 bulan depan sebagai bagian dari agenda deportasi Presiden AS Donald Trump.
Department keamanan dalam negeri (DHS – Department of Homeland Security) yang membawahi ICE memberikan konfirmasi rencana ini kepada TheHill.com, situs yang meliput berita-berita politik dan Kongres AS. Pejabat-pejabat di DHS mengatakan kepada The Hill petugas-petugas ICE akan berada di lapangan untuk “bekerja sama dengan badan-badan pemerintah lokal dan pusat untuk mengamankan” pertandingan-pertandingan Piala Dunia.
Sebelumnya NBC news melaporkan para petugas dan agen pemerintah pusat (federal officers) yang bisa menahan imigran kemungkinan mungkin akan perada di tempat-tempat pertandingan sepakbola Piala Dunia FIFA bulan depan.
Jutaan orang dari seluruh dunia akan mengunjungai Amerika selama berlangsungnya Piala Dunia. Tidak semua akan melihat pertandingan langsung. Tetapi sebagian besar pasti akan ambil bagian dalam dalam keramaian dan perayaan mendukung tim negara masing-masing.
Juru bicara DHS mengatakan pengunjung internasional ke Amerika secara sah tidak perlu khawatir. “Yang menjadi target penegakan imigrasi adalah orang yang belum tentu datang sesuai hukum.”
Kenyataannya, ICE pernah salah menahan beberapa turis. Tahun lalu, seorang turis Inggris Bernadette Burke ditahan ICE selama 19 hari dengan menggolongkannya sebagai imigran tidak resmi (illegal alien). Di awal 2025, sekelompok turis dari Jerman ditahan beberapa minggu oleh ICE sebelum dideportasi.
Amnesty International, American Civil Liberties Union (ACLU) dan banyak lagi organisasi hak asasi manusia sudah mengingatkan bahayanya berkunjung ke Amerika. “Para penggemar, pemain, wartawan, dan pengunjung lain bisa menghadapi risiko pelanggaran serius pada saat pemerintahan Trump semakin memperketat kebijakan imigrasi yang sudah kejam dan agenda anti hak asasi manusia.”
Politisi-politisi partai Demokrat, kelompok-kelompok masyarakat sipil, dan banyak komentator di sosial media juga terus mengecam kebijakan anti imigran pemerintahan Trump sebagai tidak manusiawi.
