Piala Dunia 2026, peristiwa olahraga terbesar tahun ini, akan berlangsung kurang dari sebulan (tepatnya 11 Juni) di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Tapi ribuan tiket masih belum terjual karena harga terlalu tinggi.
FIFA (persatuan sepakbola dunia) menerapkan sistem harga dinamis and pengucuran tiket ke publik sepakbola secara perlahan-lahan untuk mempertahankan harga tinggi. Cara ini sangat bertentangan dengan dengan tradisi dan semangat sepakbola sebagai “permainan rakyat” (the people’s game).
Harga tiket rata-rata dari seluruh 104 pertandingan mencapai 1603 dollar AS (lebih dari 27 juta rupiah dengan nilai kurs saat berita ini ditulis). Ini angka yang sulit dijangkau oleh kebanyakan penggemar sepakbola di Amerika dan Eropa, sebagian besar datang dari masyarakat dengan pendapatan menengah dan ke bawah.
Memang ada tiket sekitar 160 hingga 200 dollar. Tapi jumlahnya sangat sedikit dan hanya untuk pertandingan antara negara-negara yang tidak favorit untuk melaju ke babak berikut setelah penyisihan group. Contohnya tiket termurah pertandingan antara Cabo Verde -Arab Saudi sekitar 170 dollar dan petandingan Bosnia and Herzegovina-Qatar 180 dollar.
Dengan harga dinamis, harga tiket memang bisa turun sesuai dengan tingkat permintaan. Tetapi sejauh ini penurunan harga sangat terbatas karena FIFA pada saat sama mengeluarkan tiket secara perlahan dengan jumlah terbatas.
Untuk pertandingan yang melibatkan tim favorit, tiket termurah mencapai lebih dari 450 dollar. Contohnya pertandingan Spanyol-Carbo Verde di penyisihan grup; tiket termurah di bagian paling jauh kursi stadion mencapai 500 dollar. Sementara tiket termurah untuk pertandigan antara dua negara kuat, contohnya Belanda lawan Jepang di Dallas, mulai di atas 800 dollar (hampir 14 juta rupiah). Ini baru babak penyisihan grup awal. Tiiket pertandingan babak berikut setelah penyisihan mencapai ribuan dollar.
Saat ini, harga tiket pertandigan final tidak masuk akal, sudah mencapai rata-rata 13.000 hingga 16.000 dollar (lebih dari 270 juta rupiah) per tiket. Bandingkan dengan harga resmi tiket final di Piala Dunia 2022 di Qatar yang hanya 1606 dollar untuk bangku termahal.

Seorang penggemar sepakbola di Seattle, Washington, memberikan komentar marah di situs klub sepakbola Sounders. “Saya sudaah menonton Piala Dunia sejak 1974. Tetapi manajemen FIFA sekarang brengsek. Persoalan terbesar FIFA adalah exploitasi mereka atas penonton untuk meraup untung sebesar-besarnya, korupsi, dan suap.”
Menurut the Guardian, salah satu harian besar di Inggris, kita tidak bisa percaya pada apapun yang dikatakan oleh presiden FIFA Gianni Infantino, apalagi setelah ia memberikan penghargaan perdamaian (peace price) kepada Donald Trump, sesuatu yang belum pernah dilakukan FIFA kepada presiden tuan rumah mana pun. Infantino meremehkan kritik dan protes atas kebijakan harga tiket, sambil mengatakan bahwa Piala Dunia kali ini diadakan di “market di mana hiburan paling maju di dunia. Jadi kami harus menerapkan harga berdasarkan sistem pasar.”
Harga tiket mahal hanya sebagian dari biaya yang harus dikeluarkan penonton untuk datang ke lapangan. Dengan harga minyak tinggi akibat perang yang dilancarkan Israel dan Amerika terhadap Iran, biaya perjalanan seperti penerbangan dan transportasi lain seperti taksi dan kereta di dalam Amerika juga jadi mahal.
Akibatnya, minat menonton langsung Piala Dunia di Amerika tidak seperti yang diharapkan. Ledakan ekonomi jauh dari yang diperkirakan seperti yang dikeluhkan hotel hotel.
Dari hasil survei terbaru American Hotel & Lodging Association (Asosiasi Hotel dan Penginapan Amerika), terlihat pemesanan kamar jauh lebih rendah dari yang diperkirakan. Bahkan, di beberapa kota besar di mana Piala Dunia berlangung – Boston, Kansas City, Philadelphia, San Francisco dan Seattle – pemesanan kamar hotel lebih rendah dari dua tahun terakhir saat tidak ada peristiwa olahraga internasional besar. Di Los Angeles, New York City, Dallas, dan Houson permintaan lebih rendah dari musim semi dan musim panas tahun lalu.
Asosiasi Hotel Amerika tersebut menyalahkan tingginya biaya tiket dan perjalanan ke Piala Dunia and lamanya waktu tunggu mendapatkan visa Amerika sebagai penyebab utama rendahnya tingkat pemesanan kamar hotel.
“Saya kira semua berharap pertandingan-pertandingan akan mendatangkan arus masuk pemesanan hotel, tetapi dengan semua yang terjadi di dunia saat ini dan keterlibatan Amerika, peristiwa ini (Piala Dunia 2026) hasilnya berbeda,” demikian Michael Black, general manager hotel Cloud One di Manhattan, New York, seperti dikutip oleh kantor berita Amerika the Associated Press (AP).
