Pada tanggal 7 April, bet (perdagangan spekulatif) senilai 970 juta dollar AS bahwa harga minyak mentah akan turun dilakukan oleh pemain pasar yang belum diketahui. Hanya beberapa jam kemudian, Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata atas perang Israel dan AS melawan Iran. Akibatnya harga minyak turun. Spekulasi itu berhasil, harga turun dari 108 dollar ke 97 dollar per barrel. Kemudian naik lagi karena ternyata kondisi perang terus berlangsung. Si pemain pasar mengantongi keuntungan besar dalam waktu singkat, diperkirakan 125 juta dollar.
Kejadian serupa terjadi lagi tanggal 17 April dengan nilai bet sebesar 760 juta dollar AS hanya 20 menit sebelum Trump menyatakan Iran setuju membuka Selat Hormuz. Pernyataan itu dibantah pemerintah Iran. Pada 21 April bet senilai 430 juta dollar AS dilakukan hanya 15 menit sebelum Trump mengumumkan perpanjangan gencatan senjata tanpa batas waktu. Semua bet itu berhasil.
Sebelumnya – di awal perang – 16 bet masing masing senilai 100 ribu dollar AS dilakukan atas dasar perkiraan bahwa serangan Amerika terhadap Iran akan dimulai tanggal 27 Februari. Semua 16 perdangan spekulatif tersebut tepat waktu.
Baru-baru ini setelah harga minyak turun lebih dari 10 persen, Amerika kembali menyerang Iran dengan alasan bahwa sebelumnya Iran menyerang kapal-kapal angkatan laut Amerika yang melakukan blokade sekitar Selat Hormuz untuk mencegah kapal-kapal Iran ke luar dari wilayah selat. Harga minyak kembali naik.
Menurut Rory Johnston, seorang analis pasar minyak, apa yang telah terjadi di pasar minyak menunjukkan pola yang sulit dibantah bahwa ada kesengajaan menekan harga di bursa komoditi minyak tanpa perubahan nyata pada perdagangan minyak.
Ekonom pemenang hadiah Nobel Paul Krugman tegas mengatakan segelintir orang yang memiliki koneksi ke Trump menggunakan informasi ada tidaknya serangan militer untuk melakukan perdangan orang dalam (insider trading) demi keuntungan sendiri.
Krugman bahkan menggambarkan tindakan insider trading tersebut (yang secara hukum merupakan tindakan kriminal di AS) sebagai “treason” (pengkhianatan terhadap negara) dan merupakan contoh jelas dari “predation economy” (ekonomi di mana seseorang memangsa yang lain tanpa mengindahkan hukum) di bawah pemerintahan Trump.
Menurut media korporasi AS (seperti NBC, CNN, Fox, ABC) Departemen Kehakiman AS (Justice Department) tengah menyelidiki beberapa perdagangan minyak sebesar lebih dari 2,6 milyar dollar yang dilakukan sebelum berbagai pengumuman dari Presiden AS Donald Trump menyangkut perang Iran.
Para pengamat umumnya skeptis penyelidikan teresebut akan membuahkan hasil, apalagi sampai pada tahap mendakwa pelaku pasar yang diduga melakukan insider trading. Departemen Kehakiman di bawah Trump selama ini dinilai lebih banyak melayani kepentingan si presiden sendiri daripada kepentingan publik.
